Merawat Tradisi, Merawat Persaudaraan: Mbolo Weki Desa Tanju Tetap Lestari di Tengah Perkembangan Zaman
Dompu,NTB.Tangkap.Update24jam.my.id. Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggeser nilai-nilai kebersamaan, masyarakat Desa Tanju, Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) masih teguh mempertahankan salah satu warisan budaya leluhur, yakni Mbolo Weki, sebuah tradisi gotong royong yang telah mengakar dan diwariskan secara turun-temurun.
Bagi masyarakat Bima dan Dompu, Mbolo Weki bukan sekadar kegiatan berkumpul, melainkan sebuah ruang untuk mempererat persaudaraan, memperkuat silaturahmi, serta membangun semangat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Yang menarik, pelaksanaan Mbolo Weki di Desa Tanju memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Kabupaten Dompu.
Jika di sejumlah wilayah para tamu biasanya disediakan kursi sehingga suasana terlihat lebih formal, masyarakat Desa Tanju justru memilih mempertahankan kesederhanaan.
Setiap tamu yang hadir dipersilakan duduk bersama di atas hamparan terpal tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun latar belakang. Semua duduk berdampingan, saling berhadapan, berbincang hangat, dan menikmati kebersamaan sebagai satu keluarga besar.
Filosofi sederhana itu menjadi pesan kuat bahwa di hadapan nilai kemanusiaan, tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah. Semua manusia memiliki kedudukan yang sama, saling menghargai, dan saling membutuhkan.
Kepala Desa Tanju, Buyung Susanto, S.H., menegaskan bahwa tradisi Mbolo Weki merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga oleh generasi sekarang maupun yang akan datang.
"Mbolo Weki merupakan tradisi yang sudah turun-temurun dan telah berakar dalam kehidupan masyarakat Desa Tanju. Tradisi ini tetap kami pertahankan hingga hari ini karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang hidup dengan semangat gotong royong. Ketika masyarakat datang, duduk berdampingan, saling menyapa, bercengkerama, dan mempererat silaturahmi, di situlah nilai kebersamaan benar-benar hidup," ujar Buyung Susanto.
Menurutnya, mempertahankan tradisi bukan berarti menolak perkembangan zaman.
Justru di tengah era digital, nilai-nilai kebersamaan seperti inilah yang perlu terus dirawat agar masyarakat tidak kehilangan identitas budaya dan rasa persaudaraan.
Suasana Mbolo Weki di Desa Tanju juga memperlihatkan bagaimana budaya mampu menjadi perekat sosial. Tanpa sekat, tanpa perbedaan, masyarakat berkumpul dalam satu hamparan yang sama, berbagi cerita, bertukar pikiran, serta memperkuat hubungan antarsesama.
Tradisi yang sederhana ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, Mbolo Weki Desa Tanju menjadi bukti bahwa budaya gotong royong, persaudaraan, dan kesederhanaan masih hidup, tumbuh, dan menjadi kekuatan utama dalam menjaga keharmonisan masyarakat.
"Budaya boleh tua, tetapi semangat kebersamaan di dalamnya harus tetap muda." Itulah pesan yang terus dijaga oleh masyarakat Desa Tanju sebagai warisan berharga bagi generasi yang akan datang.
Tim Investigasi Dompu